Sunday, June 09, 2013

Pilih yang mana : Sukses menjadi Pegawai atau Merdeka menjadi Pengusaha ?



Sekitar 300 tahun sebelum Masehi, Pingala di India menulis Chandahsutra. Sebuah literatur bergaya Sutra yang terdiri dari 8 bab. Literatur yang cukup singkat ini adalah awal dan dasar dari teori kode "binary" yaitu 1 dan 0, yang sekarang menjadi bahasa universal komputer. Lalu tokoh matematik dan filsuf Inggris Eugene Paul Curtis di abad ke 17, berusaha menterjemahkan logika kedalam bilangan matematik. Sayang pemikiran-nya diacuhkan banyak orang. Lalu Curtis menggunakan literatur Tiongkok kuno yaitu I Ching, buku tentang perubahan yang juga menggunakan kode "binary". Baik teori Pingala dan I Ching akhirnya menguatkan teori Curtis bahwa kehidupan kita dapat disederhanakan lewat hal yang sama. Hidup adalah sama dengan kode "binary". Hanya saja Curtis belum menemukan sistim yang ia cari. Barulah pada tahun 1847, akhli matematik dan filsuf George Boole, berhasil meneruskan pemikiran Curtis menjadi teori yang dikenal dengan Aljabar Boole. Yang kemudian diterapkan kedalam sirkuit listrik elektronik dengan pendekatan "on" dan "off" yang sangat sederhana. Claude Shannon pada tahun 1937, menggunakan teori kode "binary" menjadi penerapan aplikasi yang menguntungkan di elektronik dan komputer. Semenjak itu dunia berubah total. Dan hidup kita percaya atau tidak sangat bergantung pada kode "binary" itu.

Teman saya, seorang guru matematik, mengambil sikap bijaksana. Dan ia memiliki sebuah pemikiran sederhana. Bahwa hidup ini murni 100% pilihan. Seperti juga konsep "on" dan "off". Rahasianya bilamana anda memilih satu pilihan tertentu. Bagaimana meningkatkan peluang keberhasilan bahwa pilihan kita itu menjadi yang terbaik dan menguntungkan. Bayangkan anda disebuah kamar. Bilamana anda memilih menyalakan lampu - katakan saja bahwa pilihan anda itu adalah "on", maka bagaimana memanfaatkan ruangan yang terang benderang dengan cahaya lampu. Misalnya saja dengan belajar - membaca atau menyelesaikan sebuah pekerjaan. Sebaliknya kalau anda memilih mematikan lampu - atau "off". Ruangan kamar akan gelap gulita, maka tantangan berikutnya adalah bagaimana anda memanfaatkan situasi yang gelap gulita. Katakan saja - anda memanfaatkan ruangan yang gelap tersebut untuk meditasi, istirahat, merenung atau juga untuk tidur.

Dengan memahami konsep ini, maka tidak ada satupun pilihan hidup yang buruk. Semuanya baik. Semuanya sempurna. Asalkan anda menjalani pilihan anda dengan konsisten. Dan membuat pilihan anda tersebut menjadi sebuah keberuntungan hidup. Menjadikan pilihan anda yang terbaik buat anda. Itu kunci rahasianya. Jadi jangan terpengaruh dengan ajakaan, seruan dan motivasi dari orang lain yang mengatakan bahwa anda harus begini, dan anda harus begitu. Mpu Peniti mentor spiritual saya, bertutur, bahwa seringkali seseorang gagal melakukan sesuatu karena semata-mata itu bukan pilihan-nya. Tetapi pilihan dan ajakan orang lain. Mas Teguh, teman saya dari Surabaya, awal mula selalu gagal dalam melakukan apa saja. Teguh meniti karir mulanya sebagai seorang pegawai negeri. Merasa hidupnya hanya menjadi olok-olok, ketika berumur 36 tahun ia sengaja menghadiri sebuah seminar motivasi. Dan dalam seminar itu ia terinspirasi menjadi seorang entrepener. Lalu ia berhenti menjadi pegawai negeri dan mulai-lah ia mengarungi badai kehidupan sebagai seorang pengusaha. Mulai dari agen MLM, asuransi, penjual burger, hingga broker saham dan sejumlah bidang usaha lainnya. Teguh merasa tetap di garis semula. Ia tidak mengalami kemajuan. Malah hampir bercerai dengan istrinya, karena dalam 10 tahun terakhir ia hanya menghabiskan uang saja. Untunglah istrinya penyabar, dan mertua-nya sangat mendukung setiap usahanya. Dengan penuh rasa penyesalan ia bertemu dengan saya. Mengaku bahwa 10 tahun hidupnya sia-sia dan penuh sengsara. Padahal ia selalu penuh motivasi dan terus mencoba. Ia tidak pernah putus asa. Ia selalu penuh semangat. Tetapi ia merasa sangat jauh dari cita-citanya.

Dengan penuh rasa kasihan, saya mengajak ia bertemu dengan Mpu Peniti, mentor spiritual saya. Sehabis bercerita panjang lebar. Dan Mpu Peniti, menyimaknya dengan sangat seksama. Lalu diakhir cerita, dengan suara perlahan, Mpu Peniti, bertanya apa cita-cita-nya yang sesungguhnya. Teguh terhenyak sesaat. Ia ragu. Sekian menit kemudian ia menjawab dengan penuh keraguan : "Yah, sama seperti teman-teman yang lain. Sukses dan banyak uang". Mpu Peniti lalu tersenyum, "Bilamana Mas Teguh ragu dan tidak yakin dengan tujuan dan cita-cita hidup yang sesungguhnya. Bagaimana Allah bisa membantu untuk memberikan apa yang Mas Teguh inginkan ?" Teguh termangu. Ia pulang mirip serdadu kalah. Seminggu kemudian ia mengirim SMS, nadanya gembira. "Mas, aku tau apa yang harus aku pilih sekarang".

Itu SMS Teguh setahun yang lalu. Lalu kemarin ada SMS dari Teguh. Ia mengajak saya melihat bengkelnya. Sejak SMA Teguh sudah pandai mengutak-ngutik mesin motor. Ia tahu merawat mesin. Dan mahir mereparasi serta merenovasi motor tua. Sehabis pertemuan dengan Mpu Peniti, ia merenung dan nuraninya berbisik untuk memanfaatkan hobinya. Maka ia lalu membuka bengkel mobil. Sekalian usaha jual beli mobil bekas. Usahanya berhasil dengan baik. Teguh kini sangat berbahagia. Ia mengaku telah memilih dengan tepat. Disamping ia menikmati hidupnya, penghasilan-nya juga sangat bagus. Keluarganya juga ikut senang. Istrinya mengaku ikut berbahagia.

Jadi kalau anda ingin berbahagia seperti mas Teguh, belajar memilih dengan teliti. Jangan percaya dengan omongan dan ajakan orang lain, bahwa pilihan ini atau pilihan itu yang terbaik. 100% bohong. Tidak ada pilihan yang terbaik untuk semua orang. Yang ada pilihan terbaik untuk setiap orang. Jangan iri dan cemburu, apabila anda melihat seseorang sukses menjadi seseorang. Atau seseorang berhasil kaya raya menjadi seseorang. Pilihlah yang terbaik untuk anda. Jalani dengan tekun. Penuh percaya diri. Maka anda akan sukses dan atau kaya raya sekaligus. Dan akhirnya anda akan hidup sangat berbahagia.

Lalu mana yang harus kita pilih ? Menjadi Pegawai seumur hidup ? Atau menjadi Pengusaha ? Lagi-lagi jawaban-nya tergantung pilihan anda. Menjadi seorang pegawai barangkali resikonya lebih kecil. Tetapi perjuangan dan upayanya jauh lebih besar. Gaji pegawai menengah dan atas dari perusahaan terkenal sangat memungkinkan diatas 50 juta sebulan bahkan ratusan juta. Bilamana anda sukses meniti karir menjadi direktur dan presiden direktur sebuah perusahaan papan atas, gaji-nya juga bisa milyaran sebulan. Menjadi pegawai bukan pilihan jelek. Pilihan yang sangat bagus. Cuma anda harus sadar bahwa hanya ada beberapa direktur dan hanya ada satu presiden direktur. Anda juga harus sadar bahwa semakin tua usia anda semakin besar pula resiko anda. Seseorang yang dipecat perusahaan-nya ketika berumur diatas 40 tahun, akan sangat susah mencaro pekerjaan setara, dengan gaji setara pula. Itu sebabnya jangan asal jadi pegawai. Anda perlu taktik dan strategi untuk mendaki keatas. Bilamana anda sudah mantep ingin jadi pegawai seumur hidup.

Menjadi Pengusaha bukanlah pilihan lebih baik dari pilihan menjadi pegawai. Memang ada plus dan minusnya. Pertama resikonya lebih besar. Karena 100% anda yang menentukan. Modal dan jenis usaha, semuanya anda yang melakukan. Resiko rugi dan bangkrut selalu ada. Karena resikonya barangkali lebih besar, maka hasilnya juga lebih besar. Kalau jadi pegawai penghasilan anda ditentukan oleh gaji, dan kenaikan gaji peluangnya sangat terbatas. Maka kalau jadi pengusaha, berapa yang anda dapat ditentukan 100% oleh ketekunan anda. Dan anda punya peluang melipat gandakan bisnis anda kapan saja, dan sebesar apa-pun. Peluangnya sangat terbuka lebar. Hari ini anda ungtung cuma 10 juta, tahun depan bisa untung satu milyar. Bisa saja. Dan mungkin saja.

Jadi pegawai anda harus disiplin keraja jam 09.00 pagi pulang jam 17.00 sore. Bilamana jadi pengusaha anda bebas 100%, bisa masuk kantor kapan saja. Pulang kapan saja. Atau juga tidak masuk sama sekali. Saya sendiri memilih menjadi pengusaha sejak tahun 1990. Semata lebih cocok dengan adrenalin saya. Tidak mudah. Awalnya sangat sulit dan penuh perjuangan. Tetapi karena ini pilihan hidup saya, maka saya membulatkan tekad. Rahasianya sederhana, selalu mengambil sikap positif. Tekun dan sabar. Yang terakhir melakukannya dengan penuh semangat dan kegigihan. Hasilnya sangat membahagiakan saya. Saya pikir bahagia adalah pilihan setiap orang. Apakah anda pegawai atau pengusaha anda berhak bahagia. Barangkali inilah akhir dan cita-cita kita semua !


Monday, June 03, 2013

IDE GILA PILPRES (bagian III)




Menjelang tengah malam. Lalu lintas Jakarta mulai reda. Jalan Sudirman semakin lenggang. Hanya sisa bau jelaga yang beredar di udara. Baunya busuk dan memabuk-kan. Jakarta memberi tanda bahwa ia sangat renta dan letih. Sebuah truk melewati mobil saya. Dibelakang bak ada lukisan Presiden Suharto. Besar dan menyolok. Saya jadi tersenyum. Karena fenomena ini makin marak. Dibeberapa kota mucul stiker and oblonk. Semuanya bergambar Presiden Suharto. Apakah ini tanda bahwa jaman Presiden Suharto akan kembali ? Mpu Peniti mentor spiritual saya tertawa saja, ketika hal ini saya diskusikan dengan beliau.

Menurut Mpu Peniti, ini adalah ledekan dan perlawanan rakyat. Rakyat seolah meledek, bahwa jaman memang sudah reformasi. Tetapi bukan bertambah enak, malah seolah bertambah suram. Apalagi media banyak yang menulis dengan berbagai hasil survey dan membuat berbagai perbandingan. Setelah 15 tahun kita reformasi dan 4 presiden menjabat, Indonesia sebenarnya hanya berpapasan dengan sebuah masa transisi. Rakyat merindukan sebuah keajaiban. Sebuah mujizat. Sebuah pembaharuan yang gemerlap. Ini dahaga rakyat kecil, yang tidak pernah terpenuhi. Jadi jangan aneh, kalau rakyat kecil menagih janji. Malah ada teman yang dengan optimis, mengatakan bahwa pemilu 2014, akan didominasi dengan gelombang kebangkitan wong cilik yang baru.

Esok harinya, saya menerima SMS. Ada teman ingin bertemu. Mereka ingin bicara soal artikel saya tentang - "ADU GILA PILPRES 2014", yang saya tulis di Kompasiana. Mereka penasaran sekali. Mereka bilang memang kita butuh ide gila di tahun 2014.

Siang itu kita bertemu, disebuah kedai yang menjual nasi uduk. Topik bicara kita - mencari ide kreatif PILPRES 2014. Kebetulan teman-teman saya ini memang punya bisnis survei politik. Maklum lagi marak dan sangat laku. Pembicaraan diawali dengan "mapping" peta kekuasaan pemilu 2014, dan penerawangan kekuatan partai politik berserta tokoh partainya. Pada pemilu 2009 peserta partai politiknya banyak sekali lebih dari 44 partai dan akhirnya hanya 9 partai yang punya kursi di DPR. Jumlah 44 partai itu menyusut drastis menjadi hanya 12 partai alias nyaris hanya 25%-nya. Efeknya tentu sangat besar. Analisa teman saya, sederhana. Mirip makan direstoran Padang. Bayangkan apa jadinya kalau anda disuguhkan 44 hidangan dan kemudian menyusut hanya 12 hidangan. Maka pilihan dan kebebasan memilih menjadi sangat terbatas. Partai-partai yang mengalami banyak kasus dan skandal semenjak tahun 2009 menjadi lebih jelas diteropong. Mereka bisa jadi tidak akan menjadi pilihan yang sexy. Partai baru bisa saja punya daya tarik tersendiri. Partai lama yang cenderung lebih bersih, bisa jadi dianggap pilihan aman oleh pemilih. Itu sebabnya pemilu 2014 kita butuh ide gila untuk terobosan. Kalau kita mau 5 tahun kedepan - Indonesia tidak lagi mengalami masa transisi yang melelahkan.

Ketika nasi uduk hampir ludes. Salah satu teman saya tiba-tiba berkomentar : "Lalu apa ide gilanya ?" Mereka semua melihat kesaya. Seolah saya yang bertanggung jawab. Nasi Uduk ditenggorokan saya tiba-tiba macet. Terpaksa saya buru-buru menenggak es teh tawar didepan saya. Setelah tenggorokan reda. Saya dengan serius memaparkan. Tutur saya : "Pemilu tahun 2009, 349 kursi di DPR dikuasai 3 partai besar. Demokrat, Golkar dan PDI-P". Mereka juga memperoleh 62,33 % dari total suara. 25% suara sisanya dikuasai oleh 3 partai berbasis Islam yaitu PPP, PAN, dan PKS. Dalam hitungan saya partai berbasis Islam ini secara matematis akan menjadi equilibrium dan calon koalisi terpenting. Terlepas dari berapa banyak skandal politik yang terjadi, pemilih kita yang mayoritas beragama Islam akan memilih partai yang paling nyaman bagi mereka untuk menempatkan suaranya. Artinya partai berbasis Islam tetap penting. Bila dijumlah maka ada 6 partai politik yang menguasai 87% suara lebih. Inilah kekuatan mayoritas yang harus kita perhitungkan.

Melihat hitungan matematis secara itu, maka saya mengusulkan apabila 3 atau 6 pimpinan partai itu, dengan legowo bertemu dan dengan serius membicarakan masa depan Indonesia. Mereka harus melepas semua ego mereka, dan mencari solusi terbaik buat Indonesia. Saya tidak mengusulkan koalisi, tapi cuma bertemu dan berdiskusi. Itu ide saya yang sangat sederhana.

Mendengar ide saya itu, teman-teman saya tertawa terbahak-bahak. Bahkan mereka lompat dari bangkunya masing-masing. Salah satu diantara mereka tertawa dan berkata : "Mas Kafi itu sama sekali ngak mungkin. Seperti menukar matahari dengan bulan" dan ia kembali tertawa-tawa. Saya cuma meringis, lalu asal nyablak bertutur : " Lha, namanya juga ide gila. "

15 menit kemudian, setelah reda tertawa, salah satu dari teman saya, akhirnya berkata serius, "Ide mas Kafi sebenarnya ngak bila tetapi bener banget. Bayangkan masa depan bangsa dan negara ini sebenarnya sangat ditentukan oleh 6 orang pimpinan partai tersebut. Kalau mereka tidak mau berkorban, melepas egonya. Dan duduk manis berdiskusi soal masa depan Indonesia, dan saling akur pendapat, apakah mereka masih pantas dianggap sebagai negarawan ?" Saya langsung mengiyakan. Apakah ide gila ini patut kita lempar ke rakyat ? Pertanyaan itu masih bergayut di nurani saya hingga detik ini.

Saya lalu mengambil sebuah perumpamaan - yaitu kisah the Dream Team NBA Amerika. Pemain-pemain legendaris NBA selalu bersaing ketat dalam liga sepanjang musim. Mereka berkompetisi. Bersaing. Bertempur satu dengan yang lain di lapangan. Semua adalah lawan. Tetapi ketika ada turnamen besar seperti Olympiade, mereka otomatis merapatkan barisan, dan Amerika menyusun team terbaiknya, yang beranggotakan pemain-pemain beken yang legendaris, dan itulah sebabnya disebut The Dream Team. Kalau Amerika bisa melakukan-nya di olahraga bola basket, mungkin Indonesia bisa melakukan-nya di politik.

Tahun 2014, Indonesia bakal punya tantangan super hebat. Pertama situasi ekonomi dunia yang semakin tak menentu, telah memberikan sinyal bahwa ekonomi Indonesia bakal terkena imbas. Beberapa Media telah memberikan peringatan dini, soal ekonomi Indonesia yang memperlihatkan indikasi perlambatan. Belum lama ini Rupiah terperosok ketitik yang lemah. Sesuatu yang sangat ganjil. Karena apabila ekonomi kita kokoh, mengapa Rupiah kita sangat rapuh. Padahal bursa saham Indonesia termasuk yang terbaik di ASIA. Kita juga punya segudang masalah lain, mulai dari korupsi, infrastruktur, buruh hingga masalah subsidi. Indonesia tidak bisa lagi langeng dalam masa transisi terus menerus. Kita butuh reformasi yang sesungguhnya.

Jadi apabila 3 atau sampai 6 pimpinan partai terbesar itu mau berkorban dan melepaskan egonya. Demi Indonesia, demi bangsa dan demi negara, mereka mau berdiskusi dan menyusun "The Dream Team of Indonesia 2014", saya pikir hasilnya akan ajaib sekali. Ini cuma ide gila saya saja.

Dengan potensi sumber alam, manusia, kekayaan budaya, cita-cita sebuah negara yang adil dan makmur bukan impian kosong. Tetapi sesuatu yang telah dibuktikan sejak dahulu kala. Sejak Sriwidjaja, Majapahit, hingga Mataram. Jaman emas Nusantara terdokumentasi dengan sangat rinci, meninggalkan peninggalan besar mulai dari Borobudur hingga perdagangan rempah-rempah dan kopi yang mendunia. Seorang teman pernah berkelakar bahwa kalau Indonesia itu potensinya sangat rendah, tidak mungkin Belanda sampai betah di Indonesia sampai 300 tahun lebih. Pasti ada apa-apanya. Nah, kita perlu bukti apa lagi ? Adalah takdir Indonesia untuk menjadi bangsa dan negara yang, " “Gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjoSaya sangat percaya akan takdir ini. Dan 3 sampai 6 putera puteri Indonesia diberikan kesempatan untuk mewujudkan-nya di tahun 2014. Asalkan mereka mau berkorban. Apakah itu pengorbanan yang terlalu banyak ? Menurut saya itu pengorbanan yang pantas. Namun lagi-lagi - inikan cuma ide gila saya saja .


Sunday, June 02, 2013

BIARKAN GUE JADI PELACUR


Seorang teman wartawan, mengajak saya makan siang. Saya pikir ia ingin diskusi soal impor hortikultura yang sedang heboh akhir-akhir ini. Tapi tebakan saya meleset 100%. Saya diajak makan siang disebuah restoran Jepang yang terkenal mewah dan mahal di Jakarta Pusat. Mulanya saya mengelak ajakan itu. Karena kalau saya harus membayar, bisa kering kerontang kantong saya. Sambil tertawa, teman wartawan saya, berkata : "Tenang saja kawan, sudah saya siapkan pelengkap penderita-nya. Hari yang bayar bukan sampeyan". Hati saya langsung lega.

Di restoran sudah menunggu 2 lelaki setengah baya. Pakaian-nya sama sekali tidak perlente. Yang satu berbatik lengan panjang. Yang satu lagi berbatik lengan pendek. Satu hal yang sama, keduanya memakai jam Rolex yang cukup mahal. Kami-pun makan sambil bicara kecil. Awalnya dari kemacetan Jakarta, lalu perlahan sampai ke skandal politik. Mulai-lah mereka memperkenalkan profesi mereka. Yaitu sesuatu yang masih asing ditelinga kita tetapi sudah semakin sering kita jumpai. Mereka adalah pelobi politik. Tugas mereka adalah makelar akses politik. Siapa yang butuh akses mereka menyiapkan. Mereka berdua dengan tegas mengatakan bahwa mereka bukan kacung politik siapa-pun. Argumen mereka adalah mereka bukan tukang ngumpulin duit buat pejabat dan atau partai tertentu. Karena banyak orang saat ini hanya bertindak sebagai pengumpul dana dengan menjual akses politik dan juga obyek berupa proyek-proyek di berbagai kementrian. Dan juga bukan menjual kouta proyek diberbagai kementrian. Penghasilan mereka mungkin tidak fantastis dan cukup menjanjikan.

Hanya saja, memang kemampuan mereka masih sangat terbatas. Hanya sebatas menjual akses. Profesi pelobi politik, di Indonesia bakal semakin marak. Maklum dana partai di Indonesia sangat miskin. Sedangkan korupsi hukumnya haram. Di negara-negara maju, pelobi politik punya bisnis resmi. Mereka seperti layaknya konsultan, membantu perusahaan, agar kebijakan-kebijakan pemerintah tidak merugikan bisnis mereka. Di Indonesia, pelobi politik kita yang jumlahnya sangat terbatas, masih belum punya kapasitas seperti itu. Walaupun demekian penghasilan mereka sudah ratusan juta tiap bulan-nya.

Dari soal lobi politik akhirnya kami bicara soal skandal politik dan perempuan. Iseng saya tanya 2 teman pelobi politik ini soal kenapa perempuan selalu muncul dalam setiap skandal politik. Teman yang berbaju batik lengan pendek, menjawab dengan sebuah analisa populer. Menurut beliau, ini adalah mitos warisan yang sangat tua. Sederhana, hanya raja yang memiliki ratu paling cantik. Hanya jagoan seperti James Bond yang punya cewe paling cantik. Jadi seperti ada rumus, bahwa yang paling jago, yang paling nomer satu, dan yang paling berkuasa, yang mendapatkan perempuan paling cantik. Jangan heran, kata teman saya pelobi politik ini, bahwa perempuan cantik ibarat perangko kekuasaan politik.

Siang itu makan siang kami bertambah riuh. Mereka menawarkan kepada saya, akses politik. Kata mereka siapa tahu, tahun depan ketika bursa politik memanas, saya juga butuh pelobi politik buat klien-klien saya. Maka kami-pun saling bertukar kartu nama. Ketika kami hampir berpisah, teman pelobi politik saya menawarkan makan siang lanjutan. Beliau berbisik ketelinga saya; "Minggu depan saya kenalkan mas Kafi dengan kelompok arisan Ibu-ibu". Saya cuma senyum-senyum saja sambil menganggukan kepala.

Seminggu lewat. Saya mulai melupakan janji teman saya itu. Namun kurang lebih 10 hari, masuk pesan singkat, "Mas Kafi besok arisan-nya jadi". Esok harinya saya bertemu teman saya, sang pelobi politik disebuah restoran di Jakarta Selatan. Teman saya datang dengan seorang perempuan muda. Kami berkenalan. Sebut saja sang perempuan muda namanya Ina. Wajahnya cantik. Masih belia. Paling banter usianya sekitar 22 - 24 tahun. Rambutnya panjang. Make-upnya halus dan tidak seronok. Tubuhnya sintal. Sangat menawan. Kami ngobrol basa-basi. Ina hanya diam saja. Kadang kadang ia hanya mesem kalau kebetulan obrolan kami mengena di hatinya. Kurang 20 menit kemudian, Ina berdiri dan pamit. Kata teman saya, sang pelobi politik, Ina permisi mau berangkat kuliah. Teman saya, sang pelobi politik, bisa membaca kekecewaan saya. Sambil tertawa kecil, beliau berbisik bahwa arisan yang sesungguhnya belum dimulai. Menurut teman saya, Ina dalam istilah gaul mereka cuma "free-lance" biasa. Mirip fenomena Maharani yang belum lama ini heboh di media.

Hampir 30 menit kemudian, sekelompok perempuan muda mulai berdatangan satu demi satu, dan mulai mengisi meja panjang tak jauh dari meja kami. Mereka merokok dengan santai, dan mulai riuh rendah bercengkrama, saling tertawa-tawa. Apa yang mereka bicarakan tidak pernah jelas. Pokoknya seru banget. Ketika meja penuh kurang lebih ada selusin perempuan muda yang melakukan arisan. Usia mereka sudah diatas 30'an. Kelihatan bahwa mereka datang dari golongan sangat mapan. Lihat saja merek tas, sepatu, baju dan arloji yang mereka kenakan. Semuanya bermerek kelas atas. Rambut mereka semua tertata rapi. Berlainan dengan kelompok Ibu-ibu arisan yang sering saya lihat, hampir semuanya berpakaian sangat sensual. Mulai dari rok mini hingga pakaian ketat. Dan memang hampir sebagian dari mereka tidak mengenakan cincin kawin. Sebuah observasi yang saya pelajari secara naluri ketika menghadapi perempuan. Kulit mereka terlihat sangat terawat. Make-up mereka biarpun terlihat sangat berkelas namun jelas sekali ditujukan untuk pamer. Berlainan dengan make-up Ina tadi. Kata guru pemasaran saya, jelas benar ada usaha menjual.

Teman saya memberi isyarat agar saya sabar. Kami berdua makan dan bicara hampir dua jam. Selesai arisan ibu-ibu itu, salah satunya kemudian datang dan menghampiri meja kami. Ia memperkenalkan diri, namanya Sasha (bukan nama sebenarnya). Nama beken dia adalah "Angel". Dan diatas payu daranya sebelah kiri, ada tato bidadari bersayap. Sasha berusia dipertengahan 30. Tubuhnya tinggi ramping. Rambutnya sebahu. Ia berpakaian sangat sensual. Lalu kami mulai saling menukar cerita. Sasha tanpa malu-malu bercerita bahwa ia janda dengan satu anak. Sasha mengaku ia dulunya sangat emosional. Begitu selesai SMA, ia berpacaran, dan orang tuanya menolak pacarnya. Sasha nekat dan kemudian kawin lari. Sehabis menikah dan punya anak, ia selalu ribut dengan suaminya. Tidak tahan akhirnya ia nekad kabur kedua kalinya. Ia lalu kerja kesana kemari. Mulai dari sekretaris, sampai menjual asuransi. Gajinya tidak pernah cukup. Pernah sekali anaknya sakit, dan ia ingin meminjam uang dari perusahaan. Bukan pinjaman yang ditawarkan ke Sasha, tetapi ia diajak kencan sama bos-nya. Nasibnya selalu demikian. Kemanapun ia pergi bekerja, selalu saja bosnya merayu dirinya. Semua mengajaknya kencan. Mulanya ia berpikir dunia ini sudah bejat. Dan ia merasa terkutuk punya paras yang cantik dan tubuh yang sensual.

Sampai suatu hari ia akhirnya tanpa sengaja bertemu dengan kakak kelasnya di SMA. Yang punya nasib serupa. Mereka saling curhat. Dan kakak kelasnya tanpa tedeng aling-aling bercerita bahwa profesi dirinya adalah "perempuan profesional". Begitu istilahnya. Kakak kelasnya berkata : " .... biar aje deh, orang menyebut gue pelacur..... tapi gue adalah perempuan yang mampu membahagiakan dan membuat senang setiap lelaki. Berapa banyak sih perempuan yang mahir dan jago bikin lelaki senang ? Itu bukan hal yang gampang. Gue ngak bangga ... tapi biarkan gue jadi pelacur" Itu kalimat yang tidak pernah dilupakan Sasha.

Sejak itu Sasha belajar ilmu membahagiakan lelaki dan seni membuat lelaki senang. Ia jadi telaten merawat tubuhnya. Penghasilannya diatas 100 juta sebulan. Sasha sangat mahir dalam memijat. Ia tahu caranya memanjakan lelaki. Menurut Sasha, 90 persen klien-nya, tidak mencari kepuasan sex. Tetapi lelaki yang ingin dimanjakan, lelaki yang merindukan keintiman, dan lelaki yang ingin dihargai dan dilayani. Dan lelaki yang ingin diperlakukan dengan penuh kelembutan. Han Suyin - seorang dokter dan novelis terkenal pernah menulis, - "There is nothing stronger in the world than gentleness." Kelembutan yang intim itu seringkali menjadi senjata setiap perempuan untuk meruntuhkan tembok keangkuhan lelaki manapun didunia ini. Tanpa terkecuali. Itu adalah kekuatan yang paling dahsyat dimuka bumi ini.

Sasha berkata kepada saya, bahwa ia tidak ingin selamanya seperti ini. Paling lama hanya 10 tahun lagi. Sasha percaya bahwa dalam 10 tahun itu ia akan bertemu dengan seorang klien, yang mungkin akan jatuh cinta padanya, lalu mereka akan menikah. Sasha sangat percaya pada suratan seperti ini. Sambil tertawa ia memperlihatkan telapak tangannya, "Kayaknya sudah tergambar sejak saya lahir"

Sunday, May 19, 2013

HANYA ADA SATU RESEP KAYA RAYA





Ibu saya berkali-kali menasehati saya, kata beliau hanya ada satu resep kaya raya. "Hidup hemat !" Bekas bos saya almarhum Bapak MS Kurnia, juga mengatakan hal yang sama. Ibaratnya kita punya dua saku. Saku kanan adalah tempat uang masuk. Saku kiri adalah tempat uang keluar. Selama uang keluar jauh lebih sedikit dengan uang masuk. Kita bakal aman. Ada uang lebih - maka ada kesempatan menabung. Hanya dengan cara ini kita bisa kaya raya. Tidak ada jalan lain. Tidak ada resep lain. Cuma satu ini.

Bill Gates, orang terkaya didunia, pernah membela kebiasaan-nya naik pesawat di kelas ekonomi. Kata beliau, apakah kita duduk dikelas bisnis atau kelas ekonomi, semua penumpang tiba pada saat yang bersama-an. Jadi buat apa menghamburkan uang duduk dikelas bisnis. Begitu kilah Bill Gates. Seorang konglomerat Indonesia, senang sekali memakai baju batik. Ketika saya tanya kenapa, ia berbisik bahwa baju batik itu warna-warni, sehingga tidak mudah kotor. Dan menurut mantu sang konglomerat, mertuanya bisa memakai baju batik itu berkali-kali, sampai ia merasa kotor, dan baru mencucinya. Ia sangat berhemat di ongkos cuci. Beda lagi dengan konglomerat yang satu ini, ia senang punya kantor yang berdesak-desak-an dengan anak dan mantu. Kalau ditanya mengapa, ia selalu menjawab biar akrab. Alasan utamanya, menghemat ongkos. Seorang pengusaha di Surabaya, punya strategi lain, ia menugaskan supirnya untuk selalu menghafal promosi gencar kartu kredit. Ia selalu makan bersama klien hanya direstoran yang memberikan diskon terbesar. Jadi kalau anda bertemu orang kaya raya, dan mereka punya kebiasaan aneh, jangan menuduh mereka pelit. Tapi itu rahasia kaya raya yang sesungguhnya. Hidup hemat dengan berbagai kebiasaan dan disiplin.

Kebalikan-nya banyak teman-teman saya, yang punya komentar, " ..... kenapa yah orang-orang yang mendapatkan uang secara mudah selalu tidak bertahan ?" Uangnya cepat habis. Sehingga ada istilah uang panas. Yang cepat menguap dan hilang begitu saja. Saya kebetulan pernah menemani belanja bersama seorang pejabat di Hongkong, dan dalam hanya 2 jam, sang pejabat menghabisakan uang hampir 500 juta rupiah. Saya sampai garuk-garuk kepala. Sang ajudan berbisik kepada saya, "Habis duitnya datang dengan gampang sih !". Saya cuma meringis. Secara psikologis, kata teman saya yang kebetulan adalah pemerhati gaya hidup, kebanyakan orang yang mencari uang dengan mudah maka mereka juga cenderung untuk menghabiskan uangnya dengan mudah dan boros. Kebalikan-nya orang yang sangat susah mencari uang, yang tahu berkeringat bercampur darah, maka polanya untuk menggunakan uang cenderung hati-hati dan juga sangat hemat. Ini perbedaan yang sebenarnya.

Maka persepsi yang salah banyak juga beredar. Misalnya ada juga sih, teman-teman saya yang punya strategi beda. Kalau mau kaya ? Cari uang sebanyak-banyaknya. Sehingga bisa boros se-enaknya. Demikian motto hidup mereka. Fokus mereka di mencari uang. Dan bukan berhemat menyimpan uang. Strategi ini jelas berbahaya. Sekali saja sumber uang mereka kering. Mereka akan kelabakan tanpa tabungan.

Yang sering bikin kabur adalah persepsi bahwa sukses dan kaya raya itu satu paket. Kata Mpu Peniti - mentor saya - "Sukses itu artinya sangat mahir dalam satu bidang sehingga dapat dikatakan dia-lah jagoan-nya". Betapa banyak atlet olah raga kita yang dulunya sangat berprestasi namun ternyata tidak begitu baik kondisi ekonominya. Demikian juga sejumlah artis dan penyanyi yang sangat terkenal dan sukses, tetapi kondisi ekonominya tidak sesukses karirnya. Tak terhitung juga pelukis dan seniwan yang sangat sukses dalam karirnya, tetapi kehidupan ekonominya tidak secermerlang karirnya. Sukses dan kaya raya, ternyata dua hal yang sangat berbeda. Konsep ini yang semestinya kita dalami. Bahwa anda bisa saja sukses dalam satu bidang - namun bilamana anda tidak kaya raya, jangan anda berkecil hati. Karena memang keduanya butuh cara dan strategi yang sangat berbeda.

Jadi dalam hidup ini - mana yang anda pilih ? Atau mana yang anda harus lakukan terlebih dahulu ? Sukses dulu baru kaya raya ? Atau kaya raya dulu baru anda sukses ? Sejujur-jujur-nya buat saya pribadi, pertanyaan ini tidak pernah hinggap dikepala saya. Pertanyaan ini baru muncul setelah dalam satu kuliah saya, dosen saya bertanya dengan serius dan filsosofis, "Apa gunanya kaya raya ? Dan kenapa kita harus kaya raya ? Apa kaya raya adalah tujuan hidup semua orang ?" Mendengar pertanyaan seperti itu, kami para mahasiswa yang berada di usia idealis, menjawabnya secara idealis pula. Ada yang menjawab secara filosofis, bahwa dengan kaya raya, ia bisa menolong orang banyak. Berbuat amal. Jawaban seorang "Philanthropist". Yang lain menjawab secara politis, bahwa itu adalah cita-cita semua orang. Plus sejumlah jawaban yang berbeda-beda. Tapi tidak ada satu jawaban-pun yang sesuai dengan keinginan dosen saya.

Terus terang kami semua terkejut, ketika sang dosen menjawab pendek : "Praktis !". Dosen saya memberikan argumen, bahwa kekayaan yang berlimpah membuat kita praktis bisa berbuat banyak hal. Bisa menolong orang. Bisa liburan kemana-mana. Dan bisa membeli banyak hal. Apakah kekayaan berlimpah membuat kita berbahagia ? Itu 100% bergantung pada orangnya. Tapi jawaban itulah yang mengubah hidup saya. Saya sampai pada semua persimpangan pemikiran. Bahwa situasi yang paling ideal, adalah kita harus dan wajib sukses menjadi seseorang. Entah itu pengusaha. Artis. Sastrawan. Penulis. Apapun. Dan kesuksesan itu harus bisa kita komersialkan, dan memberikan kita nafkah yang baik. Itu idealnya. Lalu dimana batas sukses itu. Jawaban-nya tidak terbatas. Tergantung pada ketekunan dan kerja keras kita.

Peristiwa ini memberikan saya sebuah kearifan khusus untuk menghadapi kehidupan ini. Mpu Peniti - mentor saya - menasehati saya dengan sebuah perumpama-an. Kata beliau, hidup ini tidak beda dengan makan. Tuhan memberikan pelajaran yang sangat sakral dalam hal bagaimana kita makan. Pertama kata Mpu Peniti, kita jangan malu terhadap rasa lapar kita. Kita juga harus belajar mengerti rasa lapar kita. Artinya dalam hidup ini kita sudah diberikan naluri yang secara alami membentuk cita-cita dan ambisi kita. Orang yang tidak mengerti rasa laparnya, akan makan sebisanya dan sepuasnya. Orang yang tidak mengerti cita-cita dan ambisinya, hanya akan maju terus tanpa rencana, dan berprestasi apa adanya. Kedua, orang yang bijak pasti akan merencanakan apa yang dimakan pagi. Apa yang dimakan siang. Dan apa yang dimakan malam. Ia juga tidak akan seadanya memuaskan rasa laparnya, tetapi makan dengan makanan yang penuh nutrisi dan bergizi. Sehingga apa yang ia makan tidak hanya memuaskan rasa lapar, tetapi memberi manfaat yang maksimal bagi tubuhnya. Orang yang bijak dan paham dengan rencana hidupnya, juga akan demikian. Karir yang ditempuhnya, bukan asal karir, tetapi jalan menuju cita-citanya. Bila tidak maka karirnya akan menguras sekian tahun dari hidupnya dengan percuma.

Ketiga, orang yang bijak tidak akan makan sepuas-puasnya sampai melewati kenyang. Ia tidak akan serakah. Dan menjadi pemuas nafsu lapar semata. Tapi ia akan makan secukupnya. Karena tahu bahwa masih ada makan siang, makan malam dan makan pagi esok hari. Orang yang bijak akan mengerti untuk menabung rasa laparnya untuk yang berikutnya. Ia akan hemat dengan rasa kenyang. Menyisakan-nya untuk berikutnya. Ia akan disiplin menabung. Hal yang sama dengan sukses dan rejeki. Perlu ditabung untuk yang berikutnya.

Bilamana ketiga hal tersebut dijalankan dengan seksama maka makan menjadi sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan. Lapar adalah berkah. Kenyang menjadi kemenangan yang bisa kita kenang setiap saat. Orang yang tidak tahu artinya makan, seringkali malas makan atau makan seadanya. Sehingga makan menjadi masalah yang merembet pada penyakit. Orang yang mengerti makan, tidak akan diperbudak oleh nafsu. Makan boleh jadi bukan semata untuk hidup. Tetapi hidup bisa juga untuk makan. Orang yang mengerti makan akan berdoa sebelum dan sesudah makan, bersyukur atas rejeki yang dihidangkan. Memuaskan rasa lapar hanya ada satu cara yaitu makan. Kaya raya juga hanya ada satu cara yaitu hidup hemat. Tetapi apa yang akan anda makan tergantung dengan selera dan nafsu makan. Sukses anda juga tergantung pada ambisi dan cita-cita anda. Sukses punya banyak jalan. Ini yang harus kita nikmati dalam kehidupan ini. Sukses punya banyak jalan dan kemungkinan.